Ads by Google

Kenapa China Enggan Disebut Negara Maju Meski Pendapatannya Kian Mendekati Kategori Tinggi?

BEIJING, CHINA — China menghadapi posisi yang tidak biasa dalam perekonomian global. Di satu sisi, negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu telah berkembang menjadi kekuatan industri, teknologi, dan perdagangan internasional. Namun, di sisi lain, Beijing masih mempertahankan identitasnya sebagai bagian dari negara berkembang atau developing countries.

Persoalan tersebut menjadi sorotan setelah pemberitaan pada 12 Oktober 2026 membahas alasan China tidak ingin begitu saja dimasukkan ke dalam kelompok negara maju. Pembahasan ini berkaitan dengan posisi China yang semakin mendekati ambang kategori negara berpendapatan tinggi menurut klasifikasi Bank Dunia.

Ads by Google

Di balik perdebatan tersebut, terdapat persoalan yang lebih luas daripada sekadar angka pendapatan nasional. Status negara berkembang berkaitan dengan kesenjangan kesejahteraan di dalam negeri, kepentingan diplomatik, serta posisi China dalam hubungannya dengan negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

China ingin mempertahankan perannya sebagai salah satu suara utama negara-negara Global South, kelompok yang secara umum merujuk pada negara berkembang dan negara-negara yang memiliki kepentingan bersama dalam tata kelola ekonomi internasional.

China Mendekati Ambang Negara Berpendapatan Tinggi

Selama beberapa dekade terakhir, China mengalami perubahan ekonomi yang sangat besar. Negara tersebut berkembang dari perekonomian yang bertumpu pada sektor pertanian menjadi pusat manufaktur global dengan jaringan produksi dan perdagangan yang menjangkau berbagai kawasan.

Pertumbuhan industri, investasi infrastruktur, ekspor, serta perkembangan teknologi membantu meningkatkan pendapatan nasional China. Perusahaan-perusahaan asal negara itu juga semakin menonjol dalam bidang kendaraan listrik, baterai, panel surya, telekomunikasi, dan berbagai produk teknologi lainnya.

Meski demikian, pertumbuhan ekonomi yang besar tidak secara otomatis membuat sebuah negara masuk kategori berpendapatan tinggi. Bank Dunia mengelompokkan perekonomian berdasarkan pendapatan nasional bruto per kapita atau gross national income per capita (GNI per kapita).

Ads by Google

Indikator tersebut mengukur pendapatan nasional bruto rata-rata per penduduk dengan menggunakan metode Atlas untuk membantu perbandingan antarnegara. Dalam klasifikasi Bank Dunia untuk tahun fiskal 2027, yang berlaku mulai 1 Juli 2026 hingga 30 Juni 2027, negara berpendapatan tinggi merupakan perekonomian dengan GNI per kapita di atas 14.375 dollar AS berdasarkan data tahun 2025.

Sementara itu, kelompok berpendapatan menengah atas berada pada rentang 4.636 hingga 14.375 dollar AS. China masih tercatat dalam kelompok berpendapatan menengah atas. Artinya, besarnya total ekonomi China belum cukup untuk menjadikannya negara berpendapatan tinggi berdasarkan klasifikasi tersebut.

Kondisi ini menunjukkan perbedaan penting antara ukuran ekonomi nasional dan tingkat pendapatan rata-rata penduduk. Sebuah negara dapat memiliki industri raksasa, perusahaan multinasional, dan pengaruh besar dalam perdagangan dunia, tetapi pendapatan per kapitanya masih berada di bawah ambang negara berpendapatan tinggi.

Mengapa China Tidak Ingin Lepas dari Identitas Negara Berkembang?

Salah satu alasan utama berkaitan dengan posisi China dalam politik internasional. Beijing selama bertahun-tahun membangun hubungan dengan negara-negara berkembang dan menampilkan dirinya sebagai mitra yang memahami tantangan pembangunan yang mereka hadapi.

Presiden China Xi Jinping pernah menegaskan bahwa China akan selalu menjadi bagian dari Global South dan dunia berkembang. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa identitas negara berkembang tidak hanya berkaitan dengan statistik ekonomi, tetapi juga dengan cara China memosisikan diri dalam hubungan internasional.

Ads by Google

Bagi Beijing, kedekatan dengan negara-negara berkembang dapat memperkuat hubungan diplomatik, perdagangan, investasi, serta kerja sama pembangunan. China juga berusaha memperluas pengaruhnya melalui proyek infrastruktur, pembiayaan, perdagangan, dan kerja sama teknologi.

Apabila China sepenuhnya dipandang sebagai negara maju, posisi diplomatiknya dapat menghadapi perubahan. Negara-negara lain mungkin akan semakin menuntut China mengambil tanggung jawab yang sebanding dengan ukuran ekonominya dan pengaruhnya dalam sistem global.

Namun, klasifikasi negara maju dan negara berkembang tidak memiliki satu definisi universal yang berlaku untuk semua organisasi internasional. Setiap lembaga menggunakan kriteria berbeda sesuai dengan tujuan analisis atau perjanjian yang diterapkan.

Karena itu, mempertahankan identitas sebagai negara berkembang tidak dengan sendirinya berarti China dapat menentukan seluruh klasifikasi internasional secara sepihak.

Kepentingan China dalam Isu Perubahan Iklim

Perdebatan mengenai status negara berkembang juga berkaitan dengan pembiayaan perubahan iklim. Dalam berbagai perundingan internasional, pembagian tanggung jawab antara negara maju dan negara berkembang menjadi salah satu isu penting.

Negara-negara maju secara historis memiliki tanggung jawab besar atas akumulasi emisi gas rumah kaca dan umumnya mempunyai kemampuan finansial serta teknologi yang lebih besar untuk mendukung upaya penanganan perubahan iklim.

Sementara itu, negara berkembang menekankan kebutuhan mereka untuk meningkatkan taraf hidup penduduk, membangun infrastruktur, memperluas akses energi, dan mengembangkan industri. Mereka juga membutuhkan dukungan pendanaan serta teknologi agar pembangunan dapat berlangsung dengan emisi yang lebih rendah.

Posisi China dalam perdebatan ini cukup kompleks. Negara tersebut merupakan salah satu penghasil emisi karbon terbesar di dunia sekaligus pemain utama dalam produksi teknologi energi bersih, seperti kendaraan listrik, baterai, dan panel surya.

Di satu sisi, China memiliki kapasitas industri dan teknologi yang memungkinkan kontribusi besar dalam transisi energi global. Di sisi lain, Beijing masih menekankan prinsip bahwa negara maju dan negara berkembang memiliki kondisi serta tanggung jawab historis yang berbeda.

Status sebagai negara berkembang juga dapat memengaruhi cara sebuah negara memandang kewajiban dan haknya dalam forum internasional tertentu. Namun, kewajiban pembiayaan iklim tidak semata-mata ditentukan oleh klasifikasi pendapatan Bank Dunia. Ketentuannya bergantung pada perjanjian, mekanisme pendanaan, dan keputusan yang berlaku dalam setiap forum.

Dengan demikian, kepentingan China dalam isu iklim bukan hanya soal menghindari kewajiban finansial, melainkan juga berkaitan dengan perdebatan mengenai pembagian tanggung jawab, keadilan pembangunan, dan pengaruh negara-negara besar dalam menentukan aturan internasional.

Kesenjangan Ekonomi Masih Menjadi Tantangan

Alasan lainnya berkaitan dengan kondisi ekonomi di dalam negeri. Meskipun China telah membangun kota-kota modern, jaringan transportasi berkecepatan tinggi, serta kawasan industri berteknologi tinggi, tingkat kesejahteraan penduduknya belum merata.

Perbedaan antara kawasan perkotaan dan pedesaan masih menjadi salah satu tantangan pembangunan. Kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan Shenzhen memiliki pusat bisnis, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, serta industri teknologi yang berkembang pesat. Namun, kondisi ekonomi di sejumlah wilayah lain tidak selalu setara.

Pendapatan, kesempatan kerja, akses terhadap pelayanan publik, dan peluang mendapatkan pendidikan berkualitas dapat berbeda menurut wilayah maupun kelompok masyarakat.

Karena itu, ukuran ekonomi nasional tidak selalu mencerminkan pengalaman ekonomi setiap rumah tangga. Kemajuan perusahaan besar dan meningkatnya nilai ekspor tidak otomatis membuat seluruh penduduk menikmati peningkatan kesejahteraan dalam tingkat yang sama.

Selain kesenjangan wilayah, China juga menghadapi tantangan dalam sektor properti, permintaan domestik, dan pasar tenaga kerja. Pelemahan sektor properti dapat memengaruhi kekayaan rumah tangga, keuangan pemerintah daerah, serta kepercayaan konsumen.

Permintaan masyarakat yang belum cukup kuat juga menjadi perhatian karena konsumsi domestik merupakan salah satu unsur penting bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Tantangan-tantangan tersebut tidak menghapus pencapaian ekonomi China. Namun, kondisi itu memperlihatkan bahwa proses menjadi negara berpendapatan tinggi tidak hanya membutuhkan industri yang maju, tetapi juga peningkatan pendapatan penduduk dan penguatan kesejahteraan secara lebih luas.

Ekonomi Besar Tidak Selalu Berarti Penduduknya Kaya

Perbedaan antara total produk domestik bruto (PDB) dan pendapatan per kapita menjadi kunci untuk memahami posisi China. PDB mengukur nilai barang dan jasa yang diproduksi suatu perekonomian dalam periode tertentu. Negara dengan populasi sangat besar dapat memiliki PDB yang tinggi karena kegiatan ekonominya berlangsung dalam skala yang luas.

Sebaliknya, PDB per kapita membagi nilai PDB dengan jumlah penduduk. Indikator ini memberikan gambaran rata-rata mengenai besarnya kegiatan ekonomi per orang, meskipun tidak secara langsung menunjukkan pembagian pendapatan yang sebenarnya.

Sementara itu, klasifikasi pendapatan Bank Dunia menggunakan GNI per kapita, bukan total PDB. GNI memperhitungkan pendapatan yang diterima penduduk suatu perekonomian, termasuk pendapatan bersih dari luar negeri, sesuai metodologi yang berlaku.

Ketiga indikator tersebut memiliki fungsi berbeda dan tidak dapat dipertukarkan begitu saja.

Sebagai contoh, sebuah negara dapat memiliki perusahaan teknologi berskala global, kawasan industri yang produktif, dan ekspor bernilai tinggi. Namun, apabila jumlah penduduknya sangat besar dan pendapatan nasional per kapitanya belum mencapai ambang tertentu, negara tersebut masih dapat masuk kategori berpendapatan menengah.

Karena itu, menyebut China sebagai kekuatan ekonomi besar tidak bertentangan dengan fakta bahwa negara tersebut masih berada dalam kelompok berpendapatan menengah atas menurut Bank Dunia.

Sebaliknya, kategori pendapatan menengah juga tidak berarti bahwa China memiliki tingkat industrialisasi, kapasitas teknologi, atau pengaruh perdagangan yang sama dengan seluruh negara lain dalam kelompok tersebut.

Global South dan Persaingan Pengaruh Dunia

Istilah Global South semakin sering digunakan dalam diskusi mengenai ekonomi dan geopolitik internasional. Istilah ini tidak semata-mata menunjukkan letak geografis di belahan bumi selatan, melainkan lebih luas merujuk pada negara-negara yang memiliki pengalaman pembangunan, kepentingan ekonomi, atau posisi historis tertentu dalam tatanan internasional.

China memanfaatkan hubungan dengan negara-negara Global South untuk memperluas kerja sama perdagangan, investasi, pembangunan infrastruktur, dan diplomasi.

Hubungan tersebut juga berlangsung ketika persaingan China dengan Amerika Serikat semakin meluas ke berbagai bidang, mulai dari teknologi, rantai pasok, keamanan, hingga pengaruh dalam lembaga internasional.

Dengan menampilkan diri sebagai bagian dari dunia berkembang, China dapat menekankan kesamaan kepentingan dengan negara-negara yang menginginkan akses pendanaan lebih besar, ruang pembangunan yang lebih luas, serta representasi yang lebih kuat dalam pengambilan keputusan global.

Akan tetapi, posisi China juga menghadapi sejumlah pertanyaan. Sebagai negara dengan kapasitas industri dan ekonomi yang sangat besar, China mempunyai kemampuan yang berbeda dibandingkan banyak negara berkembang berpendapatan rendah.

Perbedaan tersebut memunculkan perdebatan mengenai sejauh mana China seharusnya memikul tanggung jawab yang lebih besar dalam isu-isu global, termasuk pembiayaan pembangunan, perubahan iklim, dan stabilitas ekonomi internasional.

Dengan demikian, status China bukan sekadar persoalan label. Identitas tersebut turut memengaruhi cara negara lain menilai peran, tanggung jawab, dan kepentingan Beijing di panggung dunia.

Apakah China Bisa Segera Menjadi Negara Berpendapatan Tinggi?

Kemungkinan China masuk kategori berpendapatan tinggi akan bergantung pada perkembangan GNI per kapita dan ambang klasifikasi yang ditetapkan Bank Dunia setiap tahun.

Ambang tersebut diperbarui secara berkala dengan memperhitungkan perubahan harga dan faktor ekonomi yang relevan. Karena itu, mendekati batas pendapatan tinggi tidak otomatis menjamin sebuah negara akan langsung berpindah kategori pada tahun berikutnya.

Pertumbuhan ekonomi, perubahan nilai tukar, perkembangan pendapatan penduduk, serta kondisi ekonomi global dapat memengaruhi posisi suatu negara dalam klasifikasi tersebut.

China masih memiliki sejumlah modal untuk meningkatkan pendapatan nasional. Basis industri yang besar, kemampuan ekspor, investasi penelitian dan pengembangan, serta perkembangan teknologi dapat mendukung produktivitas dan pertumbuhan dalam jangka panjang.

Namun, keberhasilan transformasi tersebut juga akan dipengaruhi oleh kemampuan mengatasi persoalan struktural. Penguatan konsumsi rumah tangga, peningkatan kesempatan kerja, pemerataan pembangunan, dan pemulihan kepercayaan di sektor properti menjadi bagian penting dari tantangan ekonomi China.

Jika pertumbuhan semakin banyak dirasakan oleh rumah tangga dan produktivitas meningkat secara berkelanjutan, peluang mencapai kategori berpendapatan tinggi akan semakin terbuka. Sebaliknya, pertumbuhan yang tidak merata dapat memperlambat peningkatan pendapatan rata-rata penduduk.

Perpindahan kategori pendapatan juga tidak serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan pembangunan. Negara berpendapatan tinggi tetap dapat menghadapi kesenjangan sosial, tekanan biaya hidup, pengangguran, dan tantangan fiskal.

Status Ekonomi dan Identitas Diplomatik Bisa Berbeda

Perdebatan mengenai China memperlihatkan bahwa istilah negara maju, negara berkembang, dan negara berpendapatan tinggi tidak selalu mempunyai makna yang identik.

Kategori Bank Dunia terutama didasarkan pada pendapatan nasional bruto per kapita. Sementara itu, istilah negara maju dapat merujuk pada berbagai ukuran yang lebih luas, seperti tingkat industrialisasi, produktivitas, kualitas layanan publik, pembangunan manusia, dan kematangan institusi.

Di forum diplomatik, istilah negara berkembang juga dapat berkaitan dengan sejarah hubungan internasional, kepentingan bersama, serta ketentuan dalam perjanjian tertentu.

Oleh karena itu, perubahan kategori pendapatan China tidak otomatis menghapus identitasnya sebagai bagian dari Global South dalam setiap konteks diplomatik. Namun, perkembangan ekonomi negara itu kemungkinan akan terus memunculkan pertanyaan mengenai pembagian tanggung jawab dan kontribusi internasionalnya.

Bagi negara-negara berkembang lainnya, persoalan ini juga relevan. Pertumbuhan ekonomi yang pesat dapat membawa suatu negara semakin dekat dengan kategori pendapatan tinggi, tetapi kepentingan pembangunan, pemerataan kesejahteraan, dan hubungan internasional tetap membutuhkan perhatian.

Kesimpulan

China berada di persimpangan antara pencapaian ekonomi dan kepentingan diplomatik. Sebagai kekuatan industri dan teknologi global, negara tersebut semakin dekat dengan ambang pendapatan tinggi menurut klasifikasi Bank Dunia. Namun, kesenjangan kesejahteraan dan tantangan ekonomi domestik menunjukkan bahwa proses peningkatan taraf hidup penduduknya masih berlangsung.

Pada saat yang sama, Beijing mempunyai kepentingan untuk mempertahankan hubungannya dengan negara-negara berkembang dan memperkuat perannya dalam Global South. Posisi tersebut berkaitan dengan diplomasi, kerja sama pembangunan, serta perdebatan mengenai tanggung jawab dalam isu global, termasuk perubahan iklim.

Dengan demikian, pertanyaan mengenai mengapa China enggan disebut negara maju tidak dapat dijawab hanya melalui besarnya PDB atau kemajuan teknologinya. Persoalan tersebut juga mencakup cara mengukur kesejahteraan, pemerataan pembangunan, dan bagaimana sebuah negara menentukan posisinya dalam tatanan internasional.

Pada akhirnya, perkembangan China akan terus menjadi perhatian dunia karena perubahan status ekonominya berpotensi membawa konsekuensi tidak hanya bagi penduduknya sendiri, tetapi juga bagi hubungan antara negara maju dan negara berkembang dalam menghadapi tantangan global.

Tinggalkan komentar